Saturday, 30 August 2014

Dataran Tinggi Dieng

     Perjalanan saya kali ini sebenarnya hanya kebetulan semata. Kebetulan yang berakhir manis. Saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Om Iwa, Om Hartono, Om Abdul Salam, Om Jono, Om Aldo serta kawan-kawan rombongan LM Jakarta. Sebuah kesempatan yang luar biasa saya mendapatkan tumpangan kembali ke Bandung dari Semarang Via Dieng. Layaknya Show time dalam satu jadwal kesempatan. Trimakasih.

Dieng Plateu

          Dieng dataran tinggi yang begitu indah dan sangat pantas untuk di kunjungi lebih dari sekali. Lokasi yang menawan dengan Landscape yang patut di acungi jempol membuat daerah ini menjadi luar biasa. Seandainya memiliki waktu lebih dari sehari. Luar biasa sekali tempat ini.

Pagi itu sangat cerah


           Asap kawah yang masih mengepul, kumpulan awan di langit biru menambah lengkap suasana pagi dingin kala itu. Saya merasa pulang ke kampung halaman. dengan suasana pedesaan yang sudah lama saya nantikan dan ingin saya rasakan kembali. Pegunungan dan pepohonan hijau memberi makna tersendiri dalam kesejukan yang hanya saya fahami sendiri.  Sebenarnya ada banyak situs candi sepanjang jalan menuju tempat ini namun karena waktu kami terbatas kami hanya mengunjungi obyek yang mudah kami jangkau tanpa mengurangi makna dari kunjungan ini.

Mentari menyambut kami di kala itu.





       Dieng adalah kawasan vulkanik aktif dan dapat dikatakan merupakan gunung api raksasa dengan beberapa kepundan kawah. Ketinggian rata-rata adalah sekitar 2.000 m di atas permukaan laut. Suhu berkisar 15—20°C di siang hari dan 10°C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara dapat mencapai 0°C di pagi hari dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas ("embun racun") karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian.  Nama Dieng berasal dari gabungan dua kata bahasa Kawi: "di" yang berarti "tempat" atau "gunung" dan "Hyang" yang bermakna (Dewa). Yah saya rasa sangat cocok nama lokasi ini Dieng karena memang getaran alamnya berbeda. Punya sesuatu yang spesial yang mungkin pada masa dahulu tertua dan leluhur kita meletakkan sesuatu yang berharga disini sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa dan dapat kita nikmati hingga kini.


"Terkadang hal yang luar biasa terlahir oleh : Ketidaksengajaan"
         Pantas saja ketika itu suhu di Dieng lumayan menusuk kulit ternyata mendekati bulan Juni. Dieng layaknya Lembang di Bandung dengan suhu dinginnya yang memberikan sedikit kesejukan dan pelarian akan apa yang kita hadapi sehari-hari sebagai beban kerja dan melepaskan penat disini. Tempat yang sangat wajib untuk anda kunjungi jika anda memiliki Waktu luang ketika jadwal liburan anda masih kosong.

Ketika rokok menjadi pelarian dingin


            Saya tahu rokok tidak baik untuk kesehatan dan hampir semua orang tahu itu meski bungkus rokok sudah di tuliskan dengan panjang lebar : "MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, IMPOTENSI dll" ,mungkin bapak penjual masker ini tidak tahan akan dinginnya pagi dan merokok menjadi rutinitas beliau, namun yah kita kembali ke individu masing-masing saja. Oleh karena hal tersebut maka saya pesan POP Mie sebagai penghangat tubuh di pagi itu. Sebenarnya saya ingin sekali berlama-lama di tempat ini apa daya Waktu menjadi pembatas. hahaha. Maka di tempat ini kami hanya menghabiskan waktu kurang lebih sejam dan kembali mengitari Dataran tinggi Dieng untuk berkunjung ke Lokasi Lain.



Danau Tiga Warna

      Dana Tiga Warna atau Telaga Warna, entah saya harus menyebutnya bagaimana karena saya tidak mengetahui secara pasti dan merupakan kali pertamanya saya ke tempat ini. Telaga = Kolam yah memang benar ini adalah kolam besar yang elok dan indah sekali untuk anda pandangi. Inilah ciptaaan Tuhan yang nyata dengan segala keindahannya.
Jalan Menuju Telaga Warna

Yah Plang Masuknya.. hahaha

  Entah apa yang menyebabkan tempat ini mendapat julukan telaga warna, semua pasti ada asal usulnya. Mungkin ini kawah gunung vulkanik yang masih mengandung belerang atau zat sejenis yang menyebabkan telaga ini berwana, saya bukanlah ahli kimia, hanya menyimpulkan pikiran pribadi saya saja sebagai seorang tekniksi. Masuk ketempat ini saya merasakan sesuatu yang berbeda, ada sebuah dimensi alam berbeda di tempat ini dan saya rasakan sekali. Ini hanya perasaan saya saja jangan terlalu di tanggapi lebih jauh namun jika ada orang asli Dieng mungkin bisa menjelaskan lebih jauh. Tapi saya merasa yakin tempat ini memiliki koneksi erat dengan dimensi lain selain dimensi kita. 

Telaga Warna

Tiga serangkai kayu

Terbenam dalam aliranmu

         Terkadang kata-kata tidaklah cukup untuk menggambarkan tempat ini, saya tidak tahu mesti mengawali dan mengakhirinya dari mana, namun hanya satu yang bisa saya gambarkan. Kenyamanan saya temuakn disini. Take nothing but pictures, Leave nothing but Footprints. Maka hanya gambar yang akan mewakili saya pernah berada di tempat ini sebagai oleh-oleh untuk saya nikmati di kemudia hari ketika merindukannya.

Narsis dulu


       Bukan laki-laki namanya jika tidak mengejar rumor yang beredar di masyarakat, satu rombongan kami ber 9 orang yang isinya adalah laki-laki semua. Sudah pasti yang di kejar adalah rumor tentang "Purwaceng" yang merupakan minuman stamina khas Dieng. Saya bahkan baru kali ini mendengarnya, biarlah para sesepuh yang menelusuri benda ini melalui meditasi mereka memasuki toko-toko oleh-oleh yang ada di sepanjang jalan Dieng. Dan alhasil abrakadabra kami menemukannya. Eh mereka, hahhahaha karena saya hanya menjadi seksi dokumentasi mengabadikan transaksi para sepuh membeli Purwaceng ini. 

Sesepuh membeli oleh-oleh khas dieng : Purwaceng


Dieng, suatu ketika aku akan kembali kesini dengan semangat berbeda dan berharap banyak hal baru yang bisa saya dapatkan di tempat ini. Salam

0 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More