Friday, 29 August 2014

Jalan - Jalan ke Semarang

Kuil Sanpokong Semarang
 

       Dari dulu hobby saya memang jalan-jalan, mendakin dan mengumpulkan pernak-pernik aneh. Asalkan dapat berpergian ke luar kota senangnya bukan main. Kesempatan kali ini saya mengunjungi Kota semarang. Yah benar Kota ini terletak di Jawa tengah. Sebenarnya kunjungan saya ke semarang tidak serta merta hanya untuk jalan-jalan semata, namun untuk mengemban tugas mulia (alah tugas mulia hahahaha). Dalam rangka Ulang tahun komunitas Lensa Manual se-Indonesia(biar keliatan serem). Sebenarnya saya kesemarang ingin menggunakan sarana Transportasi Bus karena dari review dan tanya-tanya kawan yang dari semarang menggunakan Bus jauh lebih nyaman dan murah di bandingkan kereta, namun konsekuensinya saya harus berangkat sendirian. Setelah berdiskusi dengan Ibu Negara (read:pacar) akhirnya dia tidak memperbolehkan saya pergi menggunakan bus, disamping memperoleh ijin darinya yang sangat sulit maka saya harus mengikuti syaratnya untuk boleh bepergian ke Semarang harus ditemani kawan. Beberapa minggu sebelum hari-H saya masih bimbang, kemudian saya kontak Kang Ujang Ubed yang merupakan sesepuh Lensa Manual Chapter Bandung, beliau ingin menggunakan Kereta Api dan karena ini kali pertamanya saya menggunakan kereta api saya meminta bantuan beliau untuk memesan tiket.


"Kota Itu Bernama SEMARANG".................................................


          Dan singkat cerita sampailah pada tanggal keberangkatan untuk ke semarang , tanggal 16 Mei 2014 kami berdua (Saya dan Kang Ujang) bertemu di stasiun bandung di daerah kebun kawung dengan jadwal keberangkatan kereta 21.35 WIB. Harga tiket kereta saat itu Rp 240.000,- mengingat kita memesan tiket 1 minggu sebelum keberangkatan dan alhasil harganya pun melonjak. Okeh back to main topic. Setelah menunggu kurang lebih stengah jam sambil mengunyah roti bekal kita masing-masing terdengar suara pengumuman di TOA stasiun bahwa kereta Herlina tujuan Semarang segera di berangkatkan. Kami bergegas ke kereta dan masuk ke gerbong 2 dengan no kursi 15A dan 15B. Menaruh barang bawaan dan melanjutkan santapan roti kami. Pramuniaga kereta menawarkan bantal tidur seharga Rp 5000 untuk di sewakan kami berdua memesannya.
Tiket Kereta Api
           

       Untuk membunuh waktu(bahasa kerennya bray) kami mengobrol tentang lensa manual yah kita tahu lah apa yang menjadi topik para lelaki ketika mengobrol, Yap benar "Hobby Mereka" hahaha. dan terlelaplah kita dalam keletihan di kereta. Ini pengalaman pertama saya naik kereta, Hatur nuhun Kang Ujang Ubed sudah memfasilitasi saya dan membantu membelikan tiket kereta. Tertidur dan masuk ke dunia mimpi yang dipenuhi Bokeh.........!!!!!! (Bokeh = Out of focus pada bidang foto).


Tidur Dalam Bokeh : Minolta Rokkor 58mm f1.4

        Plok-plok, dik permisi. Suara sayup-sayup seorang perempuan terdengar ditelinga, dan saya terbangun dari tidur yang sangat nyaman ini. Sambil membuka mata, ternyata ibu hamil yang membangunkan saya dan mengatakan bahwa kami salah gerbong dan tempat duduk. Alamak malunya bukan main. Karena beliau hamil dan sudah pasti mengandung itu sangat berat dan melelahkan, saya bangunkan Kang Ujang untuk mengatakan bahwa kita salah gerbong dan berbondong-bondong untuk pindah ke gerbong 1. Sampai di tempat kami yang seharuskan alangkah kagetnya ternyata tempat tersebut sempit dan sangat tidak nyaman, anda bisa bayangkan kaki kami dengan kaki penumpang lain didepan kami saling mepet dan berbenturan. Wah ini pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Luar biasa, meniru ucapan "Mario Teguh" dalam hati, gumam saya.
         Gerbong yang tidak nyaman membuat susah untuk beristirahat. Untungnya saya membawa headset "Senheiser" besutan german, maaf bukan iklan tapi saya memang penggila produk german disamping lensa carl zeiss yang melegenda. Nyalakan MP3 player dan saya memaksakan untuk tidur. Terbangun di pagi hari jam 06.10 WIB saya terkaget-kaget karena di tiket tertera jam sampai di semarang adalah 05.50 WIB bergegas saya bangunkan Kang Ujang, "Kang kita udah lewat dari Semarang dan kereta belum berenti!!!!" . Kang Ujang yang notabena tertidur lelap langsung kalang kabut melihat sekitar. Saya teringat HP nokia C6 saya ada GPS. langsung nyalakan GPS dan mencari mode lokasi. Alhasil mengelus dada merasa lega karena Stasiun Semarang Tawang belum lewat, masih 5km lagi. Sesampainya di stasiun semarang kami di jemput oleh om Imam Santoso, sambutan yang luar biasa dari LM regional Semarang (SEMAR), trims Om. Meskipun di pagi itu ada murid sekolah yang naik motor dengan sembrono hampir menabrak mobil om Imam, namun ketika mengerem mendadak dengan keadaan lalu lintas demikian tidak terelakkan juga lampu stop belakang mobil Avanza om Imam tertabrak juga. Kami di Drop di Kuil Sanpokong dan menyeruput kopi panas sebelah barat Kuil yang berdekatan dengan SD.

"Yang kita cari hanya sesuatu yang membuat merasa Nyaman : Segelas Kopi"
        Registrasi peserta untuk Ulang Tahun Lensa Manual yang kelima beres, semua peserta memasuki Kuil untuk mengikuti acara selanjutnya yang telah di jadwalkan. Luar biasa kuil ini kuil bersejarah yang sudah berada ribuan tahun lalu, namun baru selesai di renovasi yang kesan magis dan kesan kononya hilang, namun kemegahannya masih tetap terjaga. Beberapa Foto Liputan di bawah ini saya jepret menggunakan beberapa Lensa Manual dan Kamera Sony NEX5N. Bila ada foto yang Blur dan tidak focus mohon di maklumi karena hal tersebut memang sengaja adanya, dan bila ada nama yang sama hanyalah sebuah kebetulan Semata.
Takumar 28mm f3.5

Acara pembukaan di mulai dengan ?? Yang pasti menyantap jajanan yang disediakan panitia. hehehehhe. Kidding. Let see the Barong Sai performance. Pada hari itu saya bertemu dan berbincang dengan kawan dari Bali bli Bayu Adnyana, dan dari makasar (LEMAK) ada om Eko om Paijo

Barong Sai....

Para Peserta lagi santai

           Setelah sesi di Sanpokong berakhir semua peseta di ajak menuju Kota Tua dengan menggunakan Bus, keren ga? yah keren ketimbang jalan kaki bro, hahhaha. Singkat cerita karena bus melaju kencang di jalan raya "40km/jam" sampailah kami di Kota Tua. Ini kota yang saya kunjungi tahun 2007 ketika menjadi fungsionaris Himpunan Mahasiswa Mesin Udayana dan makan di salah satu restoran yang nampak terlihat tidak asing. Kami di Drop dan di bagi per Group. Saya satu Group dengan Om yohanes yang sangat welcome menyambut dan menemani saya sepanjang jalan dan Lomba rally foto ini. Luar biasa, Semarang kau masih menyimpan cerita di sudut kotamu.

Om Yohanes
         Di Kota tua ini banyak sekali bangunan yang sudah berumur lumayan tua dan memang masih di pertahankan keasliannya. Banyak juga mural-mural bertemakan sosial yang ada pada dinding bangunan. Entah itu berupa keluh kesah, isi hati, acuan hingga cercaan. Yah semua daerah punya masalah sosialnya masing-masing.




"Ketika Foto Mewakili Lebih dari Rentetan Kata............................."

         
         Banyak gambar yang saya abadikan di Semarang, kota luar biasa yang punya ciri khasnya sendiri. dan saya merasa bersyukur bisa menginjakkan kaki saya di sini.

Penghobi Sepeda Onthel


Sisi Lain Kota Tua


Pabrik Rokok Praoe Lajar

       Setelah rally foto berakhir kami kembali ke alun-alun kota tua untuk mendapatkan konsumsi nasi kotak yang sangat lezat sekali. Luar biasa sekali acara ini dengan diiringi panasnya siang dan seteguk Air mineral. Acara di lanjutkan dengan foto-foto di Alun-alun kota, saya bertemu Om Nick dengan Lensa Soligor 135mm nya yang membahana, Mbak Mira, om Iwa, Om Abdul Salam, Om Hartono, Om Aldo dkk. Dari kota tua kami menuju ke Asrama Haji untuk beristirahat dan melanjutkan acara malamnya yakni ramah tamah dan pengumuman pemenang serta mengenang almarhum mendiang anak om ARB.

Acara ramah tamah kembali di suguhi makanan prasmana dan es sebagai dessert. Luar biasa panitia SEMAR sangat mantap sekali suguhannya malam itu. Dan saya pun kekenyangan, hahhaha. Sampai pada puncak acara yakni pengumuman pemenang lomba. Tanpa saya pernah berpikir untuk memenangkan lomba tersebut hanya ikut memeriahkan. Dan pemenang Ke-3 ternyata adalah karya foto saya sendiri. Alangkah senangnya, dan mendapatkan hadiah Tas Special ULTAH LM. Dan hadiah tersebut saya hibahkan ke Ibu Negara sebagai ucapan trimakasih atas ijinnya.

Veteran Riwayatmu Kini..


Namun di sela-sela hingat bingar acara Ultah, saya dan kang ujang belum mendapatkan tiket kereta maupun bus untuk kembali kebandung. Hhahahah entah harus menggunakan apa balik ke bandung sedangkan Hari senin saya harus kuliah lagi di gedung Pasca ITB. Beruntung kang ujang memang banyak chanel, Beliau akhirnya mendapatkan tumpangan dengan patungan biaya bersama om Iwa , Om Hartono, Om Jono dan Om Abdul Salam. Trims om saya ucapkan terimakasih atas Bantuannya. Dan sebelum balik menuju Jawa Barat Kami meluncur ke Dieng. Cerita ke dieng akan saya bahas di: Perjalan ke Dieng

Adapun Rincian Pengeluaran Travelling saya dari Bandung Ke Semarang :
  1. Diantar kawan kost an ke Stasiun Bandung : Gratis , Mksi mas nunuk bantuannya
  2. Beli camilan roti, Nu te, Air mineral permen di Circle - K dekat stasiun : Rp 16.500.
  3. Tiket Kereta Harina (Bandung - Semarang Tawang) : Rp 240.000,-
  4. Makan malam , Baju peserta, Tiket masuk kuil sanpokong penginapan Asrama Haji Manyaran Semarang : Rp. 200.000,-
  5. Belanja Kopi, Sampo dan Sabun : Rp. 7.500,-. Ongkos Travel kembali ke bandung (free lewat Dataran Tinggi Dieng) ; Rp 100.000,-
  6. Makan Selama Perjalan Pulang Dieng Bandung : Rp 75.000,-

Total pengeluaran = Rp 639.000

Sekian perjalanan backpacker saya ke semarang dari bandung. 


Semarang, Kotamu sungguh luar biasa, sampai bertemu lagi di kemudian hari, ku harap wajah kotamu masih seperti dulu ketika aku pertama kali mengenalmu........

Salam...
Marlon Managi




2 comments:

Mantaaps liputannya om, masih inget bener pagi2 ditubruk motor :D

Makasi om Imam Tumpangan dan jemputan serta Sambutan yang sangat luar biasa. Saya sangat berterimakasih sekali. Salam Hangat

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More