Showing posts with label Fotografi. Show all posts
Showing posts with label Fotografi. Show all posts

Monday, 2 October 2017

Review Camera RF Minolta Hi-Matic F The "Poor Man Rollei 35"

    Bagi rekan-rekan yang mengharapkan kamera ringkas mungkin salah satu pilihan bisa memperhitungkan Minolta Hi-Matic F. Kamera mungil dengan kemampuan yang mumpuni menurut pandangan saya pribadi. Namun kembali pada kebutuhan utama anda membeli kamera film.

Image source : google.


Kamera dengan spesifikasi :
  • Lensa: 1:2,7/38mm (4 lenses)
  • Films: 35mm film of 25 - 500 ASA film speed
  • Exposure: CdS meter coupled with shutter; meter cell within the filter mounting ring
  • Shutter speed: 4 sec - 1/724 sec. ( flash x-sync at 1/20 sec.)
  • Viewfinder: dual-image coupled rangefinder
  • Berat: 350 g without the RM-640 battery
  • Dimensi 113 x 73 x 54 mm 

    Saya mendapatkan kamera ini dalam keadaan tidak berfungsi. Biasanya saya service sendiri kamera milik saya pribadi, namun karena kendala waktu saya serahkan ke kawan yang memang berprofesi sebagai mekanik kamera handal. 

     Kesan awal ketika menggunakan kamera ini adalah bodynya yang mungil dengan viewfinder dan patch yang sangat nyaman dari kebanyakan kamera analog RF yang pernah saya coba. Batterynya sudah tidak di produksi lagi. Cara mengakalinya adalah dengan menggunakan 2 battery LR44 dan dipasang Seri pada satu ruang battery, ruang battery sebelahnya gunakan besi pengganjal sebagai konektornya.

     Kamera ini memiliki fitur full automatic dan sangat memudahkan memotret bagi para pengguna yang baru akan beranjak memotret film melihat trend saat ini kembali pada barang-barang vintage. Bukaan lensa kamera ini cukup unik menurut saya yaitu f2.7. Lumayan untuk memotret low light untuk saya. Bagaimanakan performa kamera ini?? Mari kita beranjak langsung pada beberapa hasil jepretan yang sudah saya cuci scan.
















    Hasil jepretannya cukup tajam untuk kamera daily use. Dengan harganya yang masih bisa kita katakan kantong mahasiswa dan kemampuan yang ditawarkan dari kamera ini sepertinya layak untuk dibeli. Hasil jepretan nya untuk saya dengan mata awam seperti ini mirip dengan Rollei 35mm. Mohon garis bawahi dan tebalkan kata "MIRIP" disini, apapun yang saya review berdasarkan dari taste yang saya rasakan pribadi. 

Setiap produk memang tidak ada kata sempurna, pasti ada kelemahan dan kelebihan nya tergantung bagaimana kita memaksimalkan gear yang kita pegang. Dari penggunaan yang saya rasakan dapat saya simpulkan beberapa keunggulan dan kelemahan kamera ini.


* Keunggulan : 
a. Body mungil, sangat mudah dibawa
b. Body terbuat dari metal, untuk saya merupakan kelebihan karena durable jangka panjang
c. View finder nya yang clear, tidak mudah menyebabkan mata lelah.
d. Lensa bukaannya cukup untuk low light.
e. Ketajaman lensa nya patut diperhitungkan.


* Kekurangan :
a. Hanya Mode Auto 
b. Ketika ingin ber eksperimen memotret lebih dibatasi oleh mode auto kamera
c. Batterynya sudah tidak diproduksi (harus membuat modifikasi agar berfungsi).
d. Karena Mode Auto meteringnya jadi agak kurang pas ketika memotret langsung ke arah sumber cahaya. sehingga kita tidak bisa menentukan pengaturan yang pas sesuai selera.

Adapun beberapa frame sample lain sebagai pembanding sebelum anda menjatuhkan pilihan ke kamera ini.

Hasil jepretan ketika saya arahkan ke direct sunlight

Pemotretan Luar Ruangan

Pmotretan didalam ruangan, Kondisi pemotretan jam 18.00 WITA

Pemotretan luar ruangan

Sekian review singkat dari saya untuk kamera mungil ini, jika ada yang kurang jelas dan ada hal yang akan ditambahkan dari tulisan saya dipersilahkan untuk meninggalkan sepatah dua patah kata dikolom komentar. Salam kokang jepret

Monday, 7 March 2016

Solar Filter Hand Made untuk memotret Gerhana Matahari

Gerhana matahari adalah fenomena alam dimana tejadinya disebabkan oleh sejajarnya posisi bumi, bulan, dan matahari. Untuk gerhana matahari cahaya matahari di halangi oleh bulan sehingga cahaya matahari yang menuju bumi terhalang bulan.

Fenomena cahaya matahari yang akan terjadi tanggal 9 Maret 2016 merupakan gerhana matahari total yang melintasi 12 provinsi di Indonesia. Dimana provinsi lainnya hanya dapat menikmati gerhana parsial dengan persentasi berbeda tergantung letak geografisnya.

Fenomena ini sangat sayang untuk dilewatkan. Apalagi untuk para penyuka fotografi. Namun kadang keterbatasan alat menjadi halangan untuk memotret fenomena ini. Sanagat tidak disarankan untuk melihat gerhana matahari secara langsung tanpa alat bantu dan melihat langsung ke view finder kamera. Kali ini saya akan membagikan bagaimana cara membuat solar filter dengan alat sederhana yang mudah anda dapatkan.

Adapun yang alat dan bahan yang dibutuhkan :

Alat :
  1. Pisau Cuter ( Rp 5.000,-)
  2. Penggaris (Rp 1.000,- )
  3. Pulpen/pensil (Rp 1.500)
 
Bahan :
  1. Kaca Las Kentaro Shade (Rp 5.000,-)
  2. Lem Castol ( Rp 5.000,-)
  3. Kertas Karton (Rp 4.000,-)
Alat dan Bahan



 Dari alat dan bahan di atas kita akan membuat solar filter yang mirip dengan filter kotak yang biasa kita gunakan untuk memotret landscape, kita sebut saja filter kotak untuk memudahkan penyebutanya. Untuk langkah-langkan pembuatannya silahkan di simak dibawah ini.


1. Pembuatan Kaca Las Holder.
    Untuk pembuatan kaca las holder dibuat dengan ukuran yang sedikit melebihi dari dimesi kaca las sendiri sehingga pada saat pemasangan kaca tidak lepas dari kertas karton. Potong kertas kartu melebihi ukuran kaca, lubangi bagian dalam sehingga cahaya matahari nantinya dapat memalintasi kaca las. Untuk lebih jelas silahkan perhatikan gambar.

Kaca Las Holder
 

2. Pembuatan Tabung Penghubung ke Lensa
    Kemudian setelah kaca las holder selesai di buat, selanjutnya adalah pembuatan tabung penghubung ke lensa. Untuk diameter dari tabung sendiri harap disesuaikan dengan ukuran diameter ujung lensa anda sehingga nantinya dapat di pasang pada ujung lensa.
Tabung Penghubung
 
 Untuk panjang tabung mohon sesuaikan dengan kebutuhan untuk meletakkan pada lensa agar filter nantinya tidak jatuh. Langka selanjutnya adalah membuat potongan kertas karton dengan dimensi sama dengan dimensi kaca las holder pada langsa sebelumnya dengan membuat lubang yang sedikit berbeda. Lubang selanjutnya berdiameter sama dengan diameter tabung penghubung ke lensa. Perhatikan gambar.
Potongan karton

 Untuk langkah selanjutnya adalah penggabungan dari tabung penghubung dengan potongan karton yang sudah di lubangi. Gunakan lem caston untuk bahan perekat dari tabung penghubung.

Setelah di Lem

3. Penggabungan / Assembly semua bagian
    Setelah semua bagian selesai di persiapkan maka langkah akhir dalam penyelesaian  adalah penggabungan semua bagian sehingga dapat kita gunakan untuk memotret nantinya. Sebelum melakukan langkah penggabungan pastikan anda sudah menyelesaikan semua bagian seperti tampak pada gambar.

Kaca Holder dan tabung penghubung




Selanjutnya tambahkan lem pada tepian kaca las pada bagian kertas karton secara merata, biarkan setengah kering. kemudian tempelkan pada bagian tabung penghubung bagian depannya. Sehingga hasil akhirnya seperti di gambar.

Hasil penggabungan


 Pekerjaan anda sudah selesai tinggal menunggu kering. Solar Filter Hand Made sudah selesai di buat. tinggal di pasang pada ujung lensa. Dan siap memotret.

Pemasangan pada kamera

Meskipun dengan dana yang bisa dikatakan terjangkau dengan total penghabisan : Rp 21.500 anda sudah siap untuk memotret gerhana matahari pada tgl 9 Maret 2016. Hasilnya jepretannya cukup memuaskan dengan hasil tes pada siang hari sebagai berikut :

Hasil jepretan

Sekian dan terimakasi tips dan trik membuat solar filter handmade. Atas perhatian dan kunjungannya saya ucapkan terimakasih.




Tuesday, 20 January 2015

FujiColor C200 sample images



Performa yang sangat baik dari roll film Fujicolor, sesuai selera saya, memiliki saturasi warna yang pas, sangat cocok untuk street hunting fotografi. Sebenarnya saya membeli roll film ini dengan harga yang lumayan murah 18rb sebiji nya tahun 2013 akhir di Bandung. Kemudian baru saya gunakan pada tahun 2014 awal, Yah hampir setahun lamanya dan saya simpan di dalam Kulkas untuk menjaga hasil film tetap baik.

Adapun beberapa hasil jepretan dari fuji color ini adalah


Fujicolor + Asahi Pentax + Helios.  (Car Free Day Dago Bandung)





 Fujicolor + Asahi Pentax + Helios.  (Car Free Day Dago Bandung)




 Fujicolor + Asahi Pentax + Helios.  (Car Free Day Dago Bandung)




 Fujicolor + Asahi Pentax + Helios.  (Car Free Day Dago Bandung)




 Fujicolor + Asahi Pentax + S-M-C Takumar 50mm f1.4.  (Cikapundung Bandung)




                                    Fujicolor + Asahi Pentax + Helios.  (Car Free Day Dago Bandung)

Sunday, 21 December 2014

How to Fix Asahi Camera Light Meter

         Asahi Pentax is one of the famous brand camera from Japan beside Nikon, Canon, and Minolta. Great built in body and its looks like samurai warrior from Japan. But nowadays I often found Asahi Pentax camera in junk store or second hand camera store in dead light meter condition. Several conditions might be caused the light meter doesn’t work such as : due its age, copper wire inside light meter is coated by rush, broken copper wire etc.  If you are analog lover is so sad to facing this condition. After several experiments I found some way to fix and bring the light meter back to normal. This method Couldn't fix your light meter if the copper wire inside the light meter is broken.

equipment


What equipment you may need?
  1. Single battery which has capacity 1.5Volt
  2. wires
  3. Tape
  4. Scissor  
Step by step
  1.  Open battery cap chamber in bottom plate of you camera.
    Bottom plate
  2.  After that you will find 2 contact surfaces. One is for negative pole, and second one is for positive pole.
  3. Remove isolator of your wires until you see copper wire.
  4. Take your battery and install the wire in both side pole of you battery using tape.
    Battery
  5.  Before you apply to using battery and wire please make sure you light meter switch is on position.
    LM switch
  6.  This is the IMPORTANT step you should pay attention. After you install the wire with battery now get ready for this part. Take the wire from positive pole from you battery put it on bottom plate(near by the hole) and take the wire form negative pole and RUBBING in surface area inside battery chamber, DO NOT Allowed the wire contact for long time to avoid overload circuit.
    Applied
  7. Be careful do not MISPLACED  between positive pole and negate pole. Because this camera using DC circuit, to avoid short circuit.
And after those steps are applied install small battery (watch battery or LR44 battery) and check your light meter. Hope it becoming normal and work properly. 

Best Regards, Marlon

 NOTE : You applied this method with your OWN RISK. 

Monday, 8 September 2014

Ketika Lensa Manual Kini menjadi Primadona

          Lensa manual, jika tedengar di telinga yah memang lensa ini menggunakan focus manually oleh pengguna kamera itu sendiri. Beberapa orang menganggap lensa ini biasa saja namun bagi yang sudah teracuni alias suka dan cinta pada lensa ini lain cerita. Dahulu tahun 2009 lensa pertama yang saya miliki adalah Pentacon 50mm f1.8 yang sudah di oprek ke mounting nikon agar dapat saya gunakan di Nikon D70 saya. 

          Memang nyatanya lensa manual punya khas nya sendiri jika di banding dengan lensa AF dan harga yang di tawarkan pun beragam. Pengguna diberikan range memilih lensa yang sesuai dengan kantongnya. Namun kini di tahun 2014 Lensa manual kian mainstream dan tidak tanggung-tanggung harga lensa kini naik 200%. Coba bayangkan kadang harganya tidak rasional lagi untuk. Bukan bermaksud menyinggung pengguna manual lainnya maupun pedagang lainnya (karena saya juga pengguna dan pedagang) hehehe.

         Namun hanya pendapat saya sendiri saja ingin sekali harga lensa manual kembali stabil seperti dahulu. Namun mungkin ini yang dinamakan hukum ekonomi. Semakin banyak permintaan dengan penawaran yang sedikit maka harga otomatis jadi meningkat. Tapi kita nikmati saja trend yang sedang terjadi hingga tahun depan dan lihat perubahan trendnya seperti apa , berharap harganya turun kembali. xixixixi (edisi nambah dry box)

Terlepas dari itu semua salam damai untuk semua pengguna lensa manual. Salam manual Lens. :D

Saturday, 30 August 2014

Dataran Tinggi Dieng

     Perjalanan saya kali ini sebenarnya hanya kebetulan semata. Kebetulan yang berakhir manis. Saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Om Iwa, Om Hartono, Om Abdul Salam, Om Jono, Om Aldo serta kawan-kawan rombongan LM Jakarta. Sebuah kesempatan yang luar biasa saya mendapatkan tumpangan kembali ke Bandung dari Semarang Via Dieng. Layaknya Show time dalam satu jadwal kesempatan. Trimakasih.

Dieng Plateu

          Dieng dataran tinggi yang begitu indah dan sangat pantas untuk di kunjungi lebih dari sekali. Lokasi yang menawan dengan Landscape yang patut di acungi jempol membuat daerah ini menjadi luar biasa. Seandainya memiliki waktu lebih dari sehari. Luar biasa sekali tempat ini.

Pagi itu sangat cerah


           Asap kawah yang masih mengepul, kumpulan awan di langit biru menambah lengkap suasana pagi dingin kala itu. Saya merasa pulang ke kampung halaman. dengan suasana pedesaan yang sudah lama saya nantikan dan ingin saya rasakan kembali. Pegunungan dan pepohonan hijau memberi makna tersendiri dalam kesejukan yang hanya saya fahami sendiri.  Sebenarnya ada banyak situs candi sepanjang jalan menuju tempat ini namun karena waktu kami terbatas kami hanya mengunjungi obyek yang mudah kami jangkau tanpa mengurangi makna dari kunjungan ini.

Mentari menyambut kami di kala itu.





       Dieng adalah kawasan vulkanik aktif dan dapat dikatakan merupakan gunung api raksasa dengan beberapa kepundan kawah. Ketinggian rata-rata adalah sekitar 2.000 m di atas permukaan laut. Suhu berkisar 15—20°C di siang hari dan 10°C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara dapat mencapai 0°C di pagi hari dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas ("embun racun") karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian.  Nama Dieng berasal dari gabungan dua kata bahasa Kawi: "di" yang berarti "tempat" atau "gunung" dan "Hyang" yang bermakna (Dewa). Yah saya rasa sangat cocok nama lokasi ini Dieng karena memang getaran alamnya berbeda. Punya sesuatu yang spesial yang mungkin pada masa dahulu tertua dan leluhur kita meletakkan sesuatu yang berharga disini sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa dan dapat kita nikmati hingga kini.


"Terkadang hal yang luar biasa terlahir oleh : Ketidaksengajaan"
         Pantas saja ketika itu suhu di Dieng lumayan menusuk kulit ternyata mendekati bulan Juni. Dieng layaknya Lembang di Bandung dengan suhu dinginnya yang memberikan sedikit kesejukan dan pelarian akan apa yang kita hadapi sehari-hari sebagai beban kerja dan melepaskan penat disini. Tempat yang sangat wajib untuk anda kunjungi jika anda memiliki Waktu luang ketika jadwal liburan anda masih kosong.

Ketika rokok menjadi pelarian dingin


            Saya tahu rokok tidak baik untuk kesehatan dan hampir semua orang tahu itu meski bungkus rokok sudah di tuliskan dengan panjang lebar : "MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, IMPOTENSI dll" ,mungkin bapak penjual masker ini tidak tahan akan dinginnya pagi dan merokok menjadi rutinitas beliau, namun yah kita kembali ke individu masing-masing saja. Oleh karena hal tersebut maka saya pesan POP Mie sebagai penghangat tubuh di pagi itu. Sebenarnya saya ingin sekali berlama-lama di tempat ini apa daya Waktu menjadi pembatas. hahaha. Maka di tempat ini kami hanya menghabiskan waktu kurang lebih sejam dan kembali mengitari Dataran tinggi Dieng untuk berkunjung ke Lokasi Lain.



Danau Tiga Warna

      Dana Tiga Warna atau Telaga Warna, entah saya harus menyebutnya bagaimana karena saya tidak mengetahui secara pasti dan merupakan kali pertamanya saya ke tempat ini. Telaga = Kolam yah memang benar ini adalah kolam besar yang elok dan indah sekali untuk anda pandangi. Inilah ciptaaan Tuhan yang nyata dengan segala keindahannya.
Jalan Menuju Telaga Warna

Yah Plang Masuknya.. hahaha

  Entah apa yang menyebabkan tempat ini mendapat julukan telaga warna, semua pasti ada asal usulnya. Mungkin ini kawah gunung vulkanik yang masih mengandung belerang atau zat sejenis yang menyebabkan telaga ini berwana, saya bukanlah ahli kimia, hanya menyimpulkan pikiran pribadi saya saja sebagai seorang tekniksi. Masuk ketempat ini saya merasakan sesuatu yang berbeda, ada sebuah dimensi alam berbeda di tempat ini dan saya rasakan sekali. Ini hanya perasaan saya saja jangan terlalu di tanggapi lebih jauh namun jika ada orang asli Dieng mungkin bisa menjelaskan lebih jauh. Tapi saya merasa yakin tempat ini memiliki koneksi erat dengan dimensi lain selain dimensi kita. 

Telaga Warna

Tiga serangkai kayu

Terbenam dalam aliranmu

         Terkadang kata-kata tidaklah cukup untuk menggambarkan tempat ini, saya tidak tahu mesti mengawali dan mengakhirinya dari mana, namun hanya satu yang bisa saya gambarkan. Kenyamanan saya temuakn disini. Take nothing but pictures, Leave nothing but Footprints. Maka hanya gambar yang akan mewakili saya pernah berada di tempat ini sebagai oleh-oleh untuk saya nikmati di kemudia hari ketika merindukannya.

Narsis dulu


       Bukan laki-laki namanya jika tidak mengejar rumor yang beredar di masyarakat, satu rombongan kami ber 9 orang yang isinya adalah laki-laki semua. Sudah pasti yang di kejar adalah rumor tentang "Purwaceng" yang merupakan minuman stamina khas Dieng. Saya bahkan baru kali ini mendengarnya, biarlah para sesepuh yang menelusuri benda ini melalui meditasi mereka memasuki toko-toko oleh-oleh yang ada di sepanjang jalan Dieng. Dan alhasil abrakadabra kami menemukannya. Eh mereka, hahhahaha karena saya hanya menjadi seksi dokumentasi mengabadikan transaksi para sepuh membeli Purwaceng ini. 

Sesepuh membeli oleh-oleh khas dieng : Purwaceng


Dieng, suatu ketika aku akan kembali kesini dengan semangat berbeda dan berharap banyak hal baru yang bisa saya dapatkan di tempat ini. Salam

Friday, 29 August 2014

Jalan - Jalan ke Semarang

Kuil Sanpokong Semarang
 

       Dari dulu hobby saya memang jalan-jalan, mendakin dan mengumpulkan pernak-pernik aneh. Asalkan dapat berpergian ke luar kota senangnya bukan main. Kesempatan kali ini saya mengunjungi Kota semarang. Yah benar Kota ini terletak di Jawa tengah. Sebenarnya kunjungan saya ke semarang tidak serta merta hanya untuk jalan-jalan semata, namun untuk mengemban tugas mulia (alah tugas mulia hahahaha). Dalam rangka Ulang tahun komunitas Lensa Manual se-Indonesia(biar keliatan serem). Sebenarnya saya kesemarang ingin menggunakan sarana Transportasi Bus karena dari review dan tanya-tanya kawan yang dari semarang menggunakan Bus jauh lebih nyaman dan murah di bandingkan kereta, namun konsekuensinya saya harus berangkat sendirian. Setelah berdiskusi dengan Ibu Negara (read:pacar) akhirnya dia tidak memperbolehkan saya pergi menggunakan bus, disamping memperoleh ijin darinya yang sangat sulit maka saya harus mengikuti syaratnya untuk boleh bepergian ke Semarang harus ditemani kawan. Beberapa minggu sebelum hari-H saya masih bimbang, kemudian saya kontak Kang Ujang Ubed yang merupakan sesepuh Lensa Manual Chapter Bandung, beliau ingin menggunakan Kereta Api dan karena ini kali pertamanya saya menggunakan kereta api saya meminta bantuan beliau untuk memesan tiket.


"Kota Itu Bernama SEMARANG".................................................


          Dan singkat cerita sampailah pada tanggal keberangkatan untuk ke semarang , tanggal 16 Mei 2014 kami berdua (Saya dan Kang Ujang) bertemu di stasiun bandung di daerah kebun kawung dengan jadwal keberangkatan kereta 21.35 WIB. Harga tiket kereta saat itu Rp 240.000,- mengingat kita memesan tiket 1 minggu sebelum keberangkatan dan alhasil harganya pun melonjak. Okeh back to main topic. Setelah menunggu kurang lebih stengah jam sambil mengunyah roti bekal kita masing-masing terdengar suara pengumuman di TOA stasiun bahwa kereta Herlina tujuan Semarang segera di berangkatkan. Kami bergegas ke kereta dan masuk ke gerbong 2 dengan no kursi 15A dan 15B. Menaruh barang bawaan dan melanjutkan santapan roti kami. Pramuniaga kereta menawarkan bantal tidur seharga Rp 5000 untuk di sewakan kami berdua memesannya.
Tiket Kereta Api
           

       Untuk membunuh waktu(bahasa kerennya bray) kami mengobrol tentang lensa manual yah kita tahu lah apa yang menjadi topik para lelaki ketika mengobrol, Yap benar "Hobby Mereka" hahaha. dan terlelaplah kita dalam keletihan di kereta. Ini pengalaman pertama saya naik kereta, Hatur nuhun Kang Ujang Ubed sudah memfasilitasi saya dan membantu membelikan tiket kereta. Tertidur dan masuk ke dunia mimpi yang dipenuhi Bokeh.........!!!!!! (Bokeh = Out of focus pada bidang foto).


Tidur Dalam Bokeh : Minolta Rokkor 58mm f1.4

        Plok-plok, dik permisi. Suara sayup-sayup seorang perempuan terdengar ditelinga, dan saya terbangun dari tidur yang sangat nyaman ini. Sambil membuka mata, ternyata ibu hamil yang membangunkan saya dan mengatakan bahwa kami salah gerbong dan tempat duduk. Alamak malunya bukan main. Karena beliau hamil dan sudah pasti mengandung itu sangat berat dan melelahkan, saya bangunkan Kang Ujang untuk mengatakan bahwa kita salah gerbong dan berbondong-bondong untuk pindah ke gerbong 1. Sampai di tempat kami yang seharuskan alangkah kagetnya ternyata tempat tersebut sempit dan sangat tidak nyaman, anda bisa bayangkan kaki kami dengan kaki penumpang lain didepan kami saling mepet dan berbenturan. Wah ini pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Luar biasa, meniru ucapan "Mario Teguh" dalam hati, gumam saya.
         Gerbong yang tidak nyaman membuat susah untuk beristirahat. Untungnya saya membawa headset "Senheiser" besutan german, maaf bukan iklan tapi saya memang penggila produk german disamping lensa carl zeiss yang melegenda. Nyalakan MP3 player dan saya memaksakan untuk tidur. Terbangun di pagi hari jam 06.10 WIB saya terkaget-kaget karena di tiket tertera jam sampai di semarang adalah 05.50 WIB bergegas saya bangunkan Kang Ujang, "Kang kita udah lewat dari Semarang dan kereta belum berenti!!!!" . Kang Ujang yang notabena tertidur lelap langsung kalang kabut melihat sekitar. Saya teringat HP nokia C6 saya ada GPS. langsung nyalakan GPS dan mencari mode lokasi. Alhasil mengelus dada merasa lega karena Stasiun Semarang Tawang belum lewat, masih 5km lagi. Sesampainya di stasiun semarang kami di jemput oleh om Imam Santoso, sambutan yang luar biasa dari LM regional Semarang (SEMAR), trims Om. Meskipun di pagi itu ada murid sekolah yang naik motor dengan sembrono hampir menabrak mobil om Imam, namun ketika mengerem mendadak dengan keadaan lalu lintas demikian tidak terelakkan juga lampu stop belakang mobil Avanza om Imam tertabrak juga. Kami di Drop di Kuil Sanpokong dan menyeruput kopi panas sebelah barat Kuil yang berdekatan dengan SD.

"Yang kita cari hanya sesuatu yang membuat merasa Nyaman : Segelas Kopi"
        Registrasi peserta untuk Ulang Tahun Lensa Manual yang kelima beres, semua peserta memasuki Kuil untuk mengikuti acara selanjutnya yang telah di jadwalkan. Luar biasa kuil ini kuil bersejarah yang sudah berada ribuan tahun lalu, namun baru selesai di renovasi yang kesan magis dan kesan kononya hilang, namun kemegahannya masih tetap terjaga. Beberapa Foto Liputan di bawah ini saya jepret menggunakan beberapa Lensa Manual dan Kamera Sony NEX5N. Bila ada foto yang Blur dan tidak focus mohon di maklumi karena hal tersebut memang sengaja adanya, dan bila ada nama yang sama hanyalah sebuah kebetulan Semata.
Takumar 28mm f3.5

Acara pembukaan di mulai dengan ?? Yang pasti menyantap jajanan yang disediakan panitia. hehehehhe. Kidding. Let see the Barong Sai performance. Pada hari itu saya bertemu dan berbincang dengan kawan dari Bali bli Bayu Adnyana, dan dari makasar (LEMAK) ada om Eko om Paijo

Barong Sai....

Para Peserta lagi santai

           Setelah sesi di Sanpokong berakhir semua peseta di ajak menuju Kota Tua dengan menggunakan Bus, keren ga? yah keren ketimbang jalan kaki bro, hahhaha. Singkat cerita karena bus melaju kencang di jalan raya "40km/jam" sampailah kami di Kota Tua. Ini kota yang saya kunjungi tahun 2007 ketika menjadi fungsionaris Himpunan Mahasiswa Mesin Udayana dan makan di salah satu restoran yang nampak terlihat tidak asing. Kami di Drop dan di bagi per Group. Saya satu Group dengan Om yohanes yang sangat welcome menyambut dan menemani saya sepanjang jalan dan Lomba rally foto ini. Luar biasa, Semarang kau masih menyimpan cerita di sudut kotamu.

Om Yohanes
         Di Kota tua ini banyak sekali bangunan yang sudah berumur lumayan tua dan memang masih di pertahankan keasliannya. Banyak juga mural-mural bertemakan sosial yang ada pada dinding bangunan. Entah itu berupa keluh kesah, isi hati, acuan hingga cercaan. Yah semua daerah punya masalah sosialnya masing-masing.




"Ketika Foto Mewakili Lebih dari Rentetan Kata............................."

         
         Banyak gambar yang saya abadikan di Semarang, kota luar biasa yang punya ciri khasnya sendiri. dan saya merasa bersyukur bisa menginjakkan kaki saya di sini.

Penghobi Sepeda Onthel


Sisi Lain Kota Tua


Pabrik Rokok Praoe Lajar

       Setelah rally foto berakhir kami kembali ke alun-alun kota tua untuk mendapatkan konsumsi nasi kotak yang sangat lezat sekali. Luar biasa sekali acara ini dengan diiringi panasnya siang dan seteguk Air mineral. Acara di lanjutkan dengan foto-foto di Alun-alun kota, saya bertemu Om Nick dengan Lensa Soligor 135mm nya yang membahana, Mbak Mira, om Iwa, Om Abdul Salam, Om Hartono, Om Aldo dkk. Dari kota tua kami menuju ke Asrama Haji untuk beristirahat dan melanjutkan acara malamnya yakni ramah tamah dan pengumuman pemenang serta mengenang almarhum mendiang anak om ARB.

Acara ramah tamah kembali di suguhi makanan prasmana dan es sebagai dessert. Luar biasa panitia SEMAR sangat mantap sekali suguhannya malam itu. Dan saya pun kekenyangan, hahhaha. Sampai pada puncak acara yakni pengumuman pemenang lomba. Tanpa saya pernah berpikir untuk memenangkan lomba tersebut hanya ikut memeriahkan. Dan pemenang Ke-3 ternyata adalah karya foto saya sendiri. Alangkah senangnya, dan mendapatkan hadiah Tas Special ULTAH LM. Dan hadiah tersebut saya hibahkan ke Ibu Negara sebagai ucapan trimakasih atas ijinnya.

Veteran Riwayatmu Kini..


Namun di sela-sela hingat bingar acara Ultah, saya dan kang ujang belum mendapatkan tiket kereta maupun bus untuk kembali kebandung. Hhahahah entah harus menggunakan apa balik ke bandung sedangkan Hari senin saya harus kuliah lagi di gedung Pasca ITB. Beruntung kang ujang memang banyak chanel, Beliau akhirnya mendapatkan tumpangan dengan patungan biaya bersama om Iwa , Om Hartono, Om Jono dan Om Abdul Salam. Trims om saya ucapkan terimakasih atas Bantuannya. Dan sebelum balik menuju Jawa Barat Kami meluncur ke Dieng. Cerita ke dieng akan saya bahas di: Perjalan ke Dieng

Adapun Rincian Pengeluaran Travelling saya dari Bandung Ke Semarang :
  1. Diantar kawan kost an ke Stasiun Bandung : Gratis , Mksi mas nunuk bantuannya
  2. Beli camilan roti, Nu te, Air mineral permen di Circle - K dekat stasiun : Rp 16.500.
  3. Tiket Kereta Harina (Bandung - Semarang Tawang) : Rp 240.000,-
  4. Makan malam , Baju peserta, Tiket masuk kuil sanpokong penginapan Asrama Haji Manyaran Semarang : Rp. 200.000,-
  5. Belanja Kopi, Sampo dan Sabun : Rp. 7.500,-. Ongkos Travel kembali ke bandung (free lewat Dataran Tinggi Dieng) ; Rp 100.000,-
  6. Makan Selama Perjalan Pulang Dieng Bandung : Rp 75.000,-

Total pengeluaran = Rp 639.000

Sekian perjalanan backpacker saya ke semarang dari bandung. 


Semarang, Kotamu sungguh luar biasa, sampai bertemu lagi di kemudian hari, ku harap wajah kotamu masih seperti dulu ketika aku pertama kali mengenalmu........

Salam...
Marlon Managi




Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More